Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 1659 telah masuk barang percetakan pertama yang diberi nama Almanak Tijdboek. Diperkirakan sekitar abad ke-17 Nederland tertarik membuka usaha percetakan di Indonesia, yaitu Jakarta. Pada tahun 1619 DKI Jakarta sudah menjadi pusat pemerintahan pada zaman VOC.
Departemen Penerangan ditutup pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Kepemilikan Lokananta akhirnya dipindahkan di bawah Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI). Perbedaan industri, percetakan dan studio rekaman, membuat Lokananta tak seaktif dulu. Bahkan, Lokananta sempat mengalami pailit pada tahun 2004.
Kalau di daftar sedikit sekali penerbit-penerbit yang muncul pada era 1950-an dan 1960an masih bertahan hingga kini seperti tiga serangkai, Erlangga,Rosdakarya,Bumi Aksara, Dian Rakyat, dan tentunya penerbit tertua Balai Pustaka yang kini telah menjadi BUMN.
SEJARAH PERCETAKAN DI INDONESIA Dimulai pada akhir dekade 70 an, di Indonesia terdapat sekitar 1.700 perusahaan percetakan. Namun, ada beberapa perusahaan percetakan kecil yang belum tercatat Eduard memperkirakan pada saat itu ada sekitar 15.000 percetakan di Indonesia.
Teknik cetak pertama kali yang dikenal dimulai dari Kota Mainz, Jerman pada tahun 1440 yang merupakan sentra kerajinan uang logam saat itu. Pertama kali metode cetak diperkenalkan oleh Johannes Gutenberg dengan inspirasi uang logam yang digesekkan dengan arang ke atas kertas.
Pada tahun 2500 B.C., orang Mesir mengukir hieroglyphics pada batu. Akan tetapi, percetakan yang kita ketahui sekarang tidak ditemukan hingga lebih dari sekitar 500 tahun yang lalu. Orang China membuat banyak penemuan. Mereka menemukan kertas pada abad pertama dan moveable type yang terbuat dari tanah liat sekitar abad ke-11.
wKGDSKp.
sejarah percetakan di indonesia